07 Desember 2007

Reformulasi Proses Pengkaderan HMI

"Hidup bukan untuk siapapun, tapi untuk dirimu sendiri. Pahamilah dirimu barulah kau bisa menjadi manusia sosial"

HMI merupakan organisasi yang menitikberatkan pada aspek pengkaderan mahasiswa, berbagai bentuk pergerakan HMI lebih merujuk pada upaya pengembangan dan pemberdayaan mahasiswa. Tidak luput dari tujuan HMI yang telah dirumuskan, fokus untuk terciptanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam lebih kepada personal atau kader itu sendiri. HMI adalah 'lembaga proses' untuk mencapai tujuan tersebut.


Berpijak pada kerangka pemikiran ini, maka selayaknya HMI melakukan kajian ulang (rekonstruksi) terhadap proses untuk merealisasikan tujuan tersebut, yakni melakukan aktivisme baru. Karena realitas sekarang, HMI tak lebih hanyalah simbol tanpa makna apapun. Tri darma komitmen kader HMI (Keislaman, Keindonesiaan dan Keintelektualan) seperti bersifat tekstual saja alias sebagai pelengkap bagian kosong buku draft materi LK1, bahkan terkesan sebagai diskursus non-aplikatif. HMI besar karena stigma klasik masyarakat yang hanya mengetahui dan mengikuti masa kejayaan HMI, meski sebenarnya kabar itu sudah usang dan tidak perlu dibanggakan kembali karena kita hidup di lain zaman.

Menurut Viva Muladi, Sekum Majelis Nasional KAHMI (Republika, 15 Februari 2006), kontekstualisasi HMI sebagai organisasi mahasiswa Islam, kader, dan lembaga perjuangan dalam dinamika sosial, telah mengalami disorientasi nilai dan tidak sesuai dengan mission sacre (tujuan mulia) HMI. Akibatnya, HMI mengalami kejumudan berpikir dan kegamangan bersikap. Dengan kata lain, HMI dirundung krisis identitas. Kondisi ini mempengaruhi manajemen organisasi yang tidak bisa diatur. Bisa dilihat dari konflik internal yang memunculkan dualisme kepemimpinan di PB HMI selama dua periode kepengurusan atau bahkan pada terpuruknya HMI semenjak orde baru, di mana HMI cenderung bermain dengan kekuasaan dan terlibat politik praktis pemerintahan.

Terlepas dari problematika tersebut, tulisan ini ingin membidik proses pengkaderan yang sebenarnya sangat krusial dan berpengaruh pada konstruk pemikiran dan mentalitas perjuangan untuk mencapai masyarakat peradaban. Hal ini karena sebuah proses berpengaruh pada hasil yang didapat. Dalam artian, proses pengkaderanlah yang memberikan sumbangsih terbesar pada pencapaian angan-angan atau idealitas harapan para kader HMI. Arah tujuan mereka bisa dilakukan dengan baik atau tidak, akan kembali pada hasil mereka dalam mengikuti proses pengkaderan.

Walaupun masalah ini bisa dibilang adalah persoalan yang langgam diwacanakan, tetap saja masih bersifat problematis. Banyak tawaran proses pengkaderan terkait dengan anggapan para pemerhati Gerakan Mahasiswa (Germa) Islam bahwa HMI sedang mengalami masa kritis organisasi. Seperti tawaran yang dilontarkan Syamsul Munir (Pontianak Pos: 20 Feb 2006) bahwa sistem perkaderan HMI perlu dirancang kembali dengan memperkuat dan mensinergikan unsur Rasionalisme “Mu'tazilah” dan Sufisme “Al-Ghazali”. Perpaduan dua madzhab dalam sistem perkaderannya, memungkinkan HMI akan bangun dan hidup dari keadaannya yang hampir mati suri saat ini. Penjenjangan sistem perkaderan HMI harus ditata seefektif mungkin untuk menghasilkan kader HMI yang bukan hanya berkualitas insan cita yang sifatnya personal, tetapi sekaligus melahirkan manusia-manusia HMI yang memiliki karakter dengan spiritualisme tinggi yang mendasarkan Islam sebagai ideologi HMI. Kader HMI juga dituntut agar bisa mempunyai empati dan sikap kritis atas realitas kehidupan yang tak tentu arah. Sistem perkaderan yang hanya melahirkan jago “debat” tapi kehilangan relevansinya dalam praktek kehidupan kemahasiswaan dan kemasyarakatan, haruslah dirubah.

Di balik itu semua, diperlukan reformulasi praktis, agar aplikasi metodologi dalam proses pegkaderan bisa diterapkan dengan baik. Hal pertama yang patut diperhatikan, adalah mewujudkan common sense (persamaan pengertian) dan common vision (persamaan pandangan) antara kader dengan HMI. Manusia cenderung nyaman melakukan aktivitas yang berdasarkan kemauan sendiri, tanpa paksaan, tanpa tuntutan dan ikatan. Sebagai fitrah, manusia selalu menyukai kebebasan—juga merupakan makna indepedensi etis HMI. Alangkah lebih baiknya, jika pola pemikiran atau paradigma awal mereka bisa lebih berkembang karena didukung oleh pola pengkaderan yang sesuai dengan kebutuhan para kader. Meskipun kewajiban sebagai kader HMI tidak boleh diabaikan, hak mereka sebagai kader juga perlu diperhatikan. Tindak lanjutnya adalah pendekatan struktural dan emosional agar penyeragaman pengertian dan pemahaman bisa diwujudkan. Barulah kemudian, menerapkan proses pemahaman sesuai kebutuhan. Perlu digaris bawahi bahwa ketertarikan dan acuan seseorang pastilah berbeda dalam beraktifitas sehingga jangan sampai timbul keterpaksaan atau paling parah adalah dipaksa. Potensi seorang kader harus dimaksimalkan dan digali agar ia bisa berproses dengan baik di dalam organisasi.

Sebuah organisasi kader seperti HMI, membutuhkan sebuah kesinambungan dalam proses pengkaderan. Proses tak akan berhenti pada satu titik, ia selaksa tanda koma dalam tulisan. Kelanjutan hanyalah menunggu waktu. Sangat ironis, jika proses pengkaderan terhenti setelah kegiatan LK1 HMI, kemudian memulai pengkaderan dari awal lagi bagi kader baru tersebut dan menafikan kader sebelumnya, yang sebetulnya masih perlu diperhatikan. Masa satu tahun, masih belum cukup mencapai hasil dan tujuan dari pengkaderan apalagi kurang dari itu. Jangan sampai penambahan kader baru, akhirnya melupakan sekelompok angggota yang sebenarnya masih akan memulai "proses" ke-HMI-an mereka.

Kabid P3A HMI Cabang Malang Komisariat Bahasa UIN Malang

0 komentar:

EL-MADANI © 2008 Por *Templates para Você*