Sejarah pergerakan masyarakat Indonesia telah menjalani evolusi panjang untuk mencapi wujud sempurna. Meskipun sejak lama, gerakan tersebut terbagi menjadi sekian elemen dengan karakter, misi dan ideologi berbeda, hal ini tidak menafikkan bahwa organisasi-organisasi tersebut berperan penting mengembangkan sentral pemikiran dan mengubah alur pikir kaum bumiputera mulai era pra kemerdekaan sampai puluhan tahun setelahnya.
Pada awal 1900-an, sebagai respon terdapat modernisasi yang muncul akibat pengaruh Hindia, berdiri organisasi Boedi Oetomo pada 1908. Organisasi ini diharapkan mampu meredam cara pandang masyarakat bumiputera yang bergeser akibat industrialisasi Belanda terutama bidang pembinaan pendidikan masyarakat Jawa yang menjadi prioritas utama. Disamping BO, Sarekat Islam yang berdiri 1912 memberikan sumbangsih besar terhadap pergerakan masyarakat bumiputera terhadap kolonialisme Belanda. Berawal dengan nama Rekso Roemekso kemudian SDI (Serikat Dagang Islam) yang adalah representasi kesadaran yang berbeda: dari ekonomi semata hingga tendensi agama, perubahan menjadi SI adalah perubahan pola pikir menjadi politik an sich.
Dua retasan organisasi tersebut hanyalah cikal bakal menjamurnya organisasi pergerakan di Indonesia pra kemerdekaan dengan acuan berbeda dan dapat dipetakan mulai persoalan ekonomi, sosial, budaya, agama hingga politik. Sebut saja SDP (Sociaal Democratische Partij), ISDV, JIB (Jong Islamietan Bond), SIS (Studen Islam Studied) dan lain sebagainya.
Pasca kemerdekaan, di bawah pemerintahan Soekarno, paham marxisme tumbuh subur di tanah Indonesia. Beberapa organisasi yang sebelumnya memang berhaluan sosialis semakin melebarkan pengaruhnya. Pecahnya SI menjadi SI putih dan SI merah semakin menampakkan dominasi sosialisme di beberapa organisasi. Dan ini berimbas pada masyarakat bumiputera yang selanjutnya mulai tertarik untuk menggeluti pemikiran-pemikiran berhaluan sosialis karena menganggapnya sebagai ideologi penyelamat bangsa.
Pada awal kemerdekaan hingga awal tahun 1947, alam politik di wilayah Republik khususnya di Yogyakarta didominasi oleh dua ideologi besar: sosialisme dan Islam. Di dalam tubuh pemerintah, terjadi polarisasi politik antara pihak pemerintah yang diwakili oleh partai sosialis pimpinan Syahrir dan Amir Syarifuddin dengan pihak oposisi yang dikomandani oleh Masyumi pimpinan Soekiman dan PNI pimpinan Mangunsarkoro serta Persatuan Perjuangannya Tan Malaka.
Dua pihak berseberangan ini terus melancarkan pelbagai proganda untuk mengikat massa demi kepentingan organisasi mereka. Beragam organisasi masyarakat didekati agar ideologi mereka dapat cepat menyebar di seluruh kawasan Indonesia. Salah satunya adalah organisasi mahasiswa yang berpusat di Yogyakarta, PMY (Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta). PMY yang berdiri pada 1946 beranggotakan seluruh mahasiswa dari tiga perguruan tinggi, yaitu STT (Sekolah tinggi Teknik), STI (Sekolah Tinggi Islam), dan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada. PMY adalah adalah organisasi yang merupakan target penanaman ideologi sosialis didukung oleh sebagian besar pengurus PMY yang berorientasi pada Partai Sosialis.
Didasarkan pada fenonema tersebut, beberapa mahasiswa yang sebelumnya menahan keinginan untuk mendirikan organisasi mulai berani menunjukkan sikap bertentangan dengan PMY. Sebenarnya, keinginan beberapa mahasiswa Islam untuk mendirikan organisasi mahasiswa berbasis agama telah bermunculan akibat sikap PMY yang dianggap tidak memperhatikan kepentingan mahasiswa beragama. Tetapi diurungkan karena dikhawatirkan memecah belah kekuatan mahasiswa yang diharapkan berperan sebagi perintis untuk mempertahankan republik Indonesia dari ancaman Belanda. Sikap ini tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa Islam saja tetapi juga datang dari Mahasiswa Katolik, Mahasiswa Kristen, serta dari kalangan Mahasiswa lainnya.
Puncaknya, pada 5 Februari 1947, diprakarsai Lafran Pane dan 14 mahasiswa STI lainnya, HMI berdiri dan kemudian diikuti oleh PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Kristen Republik Indonesia), PMKI yang pada 1950 bermetamorfosis menjadi GMKI, sertta PMI (Perhimpunan Mahasiswa Indonesia). Tujuan berdirinya HMI bukan hanya sebagai usaha memepertahnkan integrasi dan kemerdekaan Republik Indonesia, namun juga untuk mempertahankan nilai-nilai keislaman. Hal ini senada dengan pasal 4 Anggaran Dasar HMI, yaitu mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia, dan menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam.
Sekelumit catatan sejarah di atas hanyalah sekian bukti bahwa HMI dalam sejarah perjalanan Indonesia telah memberikan sumbangsih yang signifikan. Salah satunya adalah keterlibatan organisasi tersebut terhadap perlawanan atas PKI yang sempat menjadi mimpi buruk masyarakat Indonesia dan proses pembangunan Republik Indonesia.
Ini hanya sekedar romantisme sejarah di mana keterlibatan aktif organisasi HMI ini di masa lampau pada perkembangan bangsa Indonesia seharusnya menjadi sebuah renungan bukan kebanggaan. Dikhawatirkan sikap membanggakan diri dengan apa yang telah HMI berikan, akan membuat realisasi tujuan HMI dapat terhambat. Kita akan terjebak dalam kubangan sejarah padahal kita tidak berperan aktif di dalamnya. Yang perlu dilakukan adalah konsentrasi dan partisipasi aktif untuk mengembangkan konsepsi tujuan HMI yakni terwujudnya lima kualitas insan cita HMI: “insan akademis, insan pencipta, insan pengabdi, insan bernafaskan islam dan insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Swt” di masa sekarang dan mendatang.
Perkaderan di HMI bukanlah suatu hal yang sudah tersedia dan jadi dengan sempurna. Menjadi anggota sebuah organisasi yang mempunyai reputasi gemilang secara historis bukanlah hak paten dapat berubah besar seperti organisasi yang ditunggangi. Ibaratnya seperti seorang vegetarian yang berharap tidak diseruduk banteng marah. Untuk menggapai insan cita harus melalui dan mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang panjang. Eforia sejarah berlebihan dapat menggelamkan proses menjadi insan cita dan niscaya tidak akan berdaya menghadapi seleksi alamiah yang terjadi dalam proses perkaderan. Go Ahead HMI!!!
Kabid P3A HMI Cabang Malang Koms. Bahasa UIN Malang
07 Desember 2007
Menghilangkan Eforia Historis HMI untuk Mewujudkan Insan Cita
Diposting oleh EL-MADANILabel: ke-hmi-an
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar