<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168368651595983018</id><updated>2012-02-16T21:57:14.182+07:00</updated><category term='Kolom Sastra'/><category term='ke-hmi-an'/><category term='Madrasah Ruhani'/><title type='text'>EL-MADANI</title><subtitle type='html'>Media Pengembangan Intelektual</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://el-madani.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168368651595983018/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://el-madani.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>EL-MADANI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13884354467074725423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_GCsvDS-3uUY/R1W4Vrm5qtI/AAAAAAAAAAY/NtO7pKg5Hf4/S220/Untitled-1+copyK.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168368651595983018.post-3036842999816124405</id><published>2009-03-19T21:51:00.001+07:00</published><updated>2009-03-19T21:56:55.283+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom Sastra'/><title type='text'>Sajak Dan Anggapan Umum</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;Oleh: Edi Slenger*&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;&lt;i&gt;Puisi bukanlah pameran sengkarut imaji atau sulapan bunyi, melainkan rangkaian sari &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;&lt;i&gt;bening kata yang di suling dari dunia sehari-hari (osip mandelstam)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;Berbicara tentang sebuah sajak memang tidak akan terlepas dari nilai-nilai ke indahan (estetik) sebab ia lahir dari kesunyian jiwa, rasa, hati seorang penyair, namun terkadang hal itu atau bahkan sudah lumrah dan nota bene-nya dijadikan streotipe bahwa sajak haruslah estetik &lt;i&gt;(bahasa yang indah),&lt;/i&gt; jadi tidak heran ketika ada pemula yang menulis sebuah sajak dengan bahasa melangit ataupun yang terbiasa walaupun pada kenyataannya &lt;i&gt;(esensi)&lt;/i&gt; kandungan atau nilai &lt;i&gt;(pesan)&lt;/i&gt; yang akan disampaikan tidak sampai ketangan para pembaca dikarenakan semraut bahkan terlalu mendayu-dayu, hingga pembaca sendiri kebingungan menangkap apa yang disampaikan oleh si penulis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;Angapan umum &lt;i&gt;(common sense)&lt;/i&gt; pada sajak disini sering dibuat pijakan hampir oleh mayoritas kalangan yang memahaminya secara parsial, ialah bahwa bahasa sajak harus indah. Dan anggapan ini adalah salah, seperti yang di ungkap oleh Abdul Hadi W. M. &lt;i&gt;“Salah satu anggapan umum yang keliru mengenai sajak ialah bahwa bahasanya mesti indah ungkapannya atau dapat mengguncangkan pembaca. Maka tidak jarang penulis memenuhi sajaknyua dengan ungkapan atau kata-kata berbunga atau memenuhi dengan citraan-citraan liar. Padahal yang disebut pengucapan indah dalam sajak ialah terletak pada ketepatan dan ketajaman daya ucapnya dalam menghidupkan gagasan, perasaan atau suasana puitik”. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;Permasalahan yang sangat fundamental dan krusial sekali adalah, bagaimana kita bisa menghilangkan dan menghapus padangan-pandangan —asumsi— atau klaim yang tidak pas terhadap sejatinya sajak, supaya mereka mengerti betul kalau bahasa sebuah sajak yang digunakan tidak mesti dan selalu indah, khususnya pada semua mereka yang masih dini mempelajari dan mengetahuinya. Seperti yang juga di ungkap oleh Nawal El-Sadawi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;“Saatnya membawa pembaca membaca diatas kesadarannya, bukan lagi dibawah kesadarannya&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;"&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt; dalam artian bagaimana kita menyuguhkan karya kita yang baik sehingga pembaca tidak kebingungan dalam mersepon serta mereka tetap membaca diatas kesadaran —memahami karya sastra secara utuh— dan tidak &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;taken for granted.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;Maka dari itu —sebuah tuntutan bagi kita— kita harus paham betul ketika kita mau menulis sajak agar apa yang akan kita tulis dan sampaikan bisa di tangkap dengan mudah yaitu dalam membangun citraan. Mengapa demikian, sebab citraan disini sangat penting untuk membangun ketajaman serta terlahirnya sajak yang memiliki ruh bagi khalayak dan mudah di tangkap.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;Satu contoh sajak sederhana tapi menakjubkan yaitu dalam sajaknya Sapardi Joko Damono, yang dibangun dengan citraan dan tidak memprioritaskan kata yang berbunga namun aksentuasinya langsung pada sinergisitas penciptaan dan nilai dalam sajak yang akan disampaikan pada pembaca, “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, lewat kata yang tak sempat di ucapkan kayu pada api yang menjadikannya abu, aku ingin mencintaimu dengan  sederhana, lewat isyarat yang taksempat disampaikan awan pada hujan yang menjadikannya tiada”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;  sajak ini lahir dari spritualitas kontemplatif aku &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;(lirik)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt; dalam memenuhi ruang sejatinya sajak, yaitu citraan dan bukan semata-mata pada sejatinya kata, sebab jika dibangun dengan sejatinya kata maka yang di prioritaskan adalah bahasa dan kata yang berbunga serta melangit tapi alpa dari makna.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;Paparan diatas ini adalah gambaran sekilas bagi kita dan ruang publik agar dalam merespon dan menginterpretasikan juga memahami karya sastra &lt;i&gt;(sajak)&lt;/i&gt; tidak menyimpang, meskipun secara faktual ketika sebuah tulisan berada ditangan para pembaca, adalah hak atau otoritas pembaca itu sendiri. &lt;i&gt;Wallahu a’lam&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;*Edi Slenger&lt;/i&gt;, mahasiswa Aktif Studi Bahasa dan Sastra Inggris UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Pegiat di sanggar sastra “Tinta Langit Malang” Teater K2. &lt;span style="color:#0000ff;"&gt;email: edislenger@telkom.net&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168368651595983018-3036842999816124405?l=el-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://el-madani.blogspot.com/feeds/3036842999816124405/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168368651595983018&amp;postID=3036842999816124405' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168368651595983018/posts/default/3036842999816124405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168368651595983018/posts/default/3036842999816124405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://el-madani.blogspot.com/2009/03/sajak-dan-anggapan-umum.html' title='Sajak Dan Anggapan Umum'/><author><name>EL-MADANI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13884354467074725423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_GCsvDS-3uUY/R1W4Vrm5qtI/AAAAAAAAAAY/NtO7pKg5Hf4/S220/Untitled-1+copyK.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168368651595983018.post-9139502056048873265</id><published>2007-12-07T04:04:00.000+07:00</published><updated>2007-12-07T04:24:20.564+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ke-hmi-an'/><title type='text'>Reformulasi Proses Pengkaderan HMI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Hidup bukan untuk siapapun, tapi untuk dirimu sendiri. Pahamilah dirimu barulah kau bisa menjadi manusia sosial"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HMI merupakan organisasi yang menitikberatkan pada aspek pengkaderan mahasiswa, berbagai bentuk pergerakan HMI lebih merujuk pada upaya pengembangan dan pemberdayaan mahasiswa. Tidak luput dari tujuan HMI yang telah dirumuskan, fokus untuk terciptanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam lebih kepada personal atau kader itu sendiri. HMI adalah 'lembaga proses' untuk mencapai tujuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpijak pada kerangka pemikiran ini, maka selayaknya HMI melakukan kajian ulang (rekonstruksi) terhadap proses untuk merealisasikan tujuan tersebut, yakni melakukan aktivisme baru. Karena realitas sekarang, HMI tak lebih hanyalah simbol tanpa makna apapun. Tri darma komitmen kader HMI (Keislaman, Keindonesiaan dan Keintelektualan) seperti bersifat tekstual saja alias sebagai pelengkap bagian kosong buku draft materi LK1, bahkan terkesan sebagai diskursus non-aplikatif. HMI besar karena stigma klasik masyarakat yang hanya mengetahui dan mengikuti masa kejayaan HMI, meski sebenarnya kabar itu sudah usang dan tidak perlu dibanggakan kembali karena kita hidup di lain zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Viva Muladi, Sekum Majelis Nasional KAHMI (Republika, 15 Februari 2006), kontekstualisasi HMI sebagai organisasi mahasiswa Islam, kader, dan lembaga perjuangan dalam dinamika sosial, telah mengalami disorientasi nilai dan tidak sesuai dengan mission sacre (tujuan mulia) HMI. Akibatnya, HMI mengalami kejumudan berpikir dan kegamangan bersikap. Dengan kata lain, HMI dirundung krisis identitas. Kondisi ini mempengaruhi manajemen organisasi yang tidak bisa diatur. Bisa dilihat dari konflik internal yang memunculkan dualisme kepemimpinan di PB HMI selama dua periode kepengurusan atau bahkan pada terpuruknya HMI semenjak orde baru, di mana HMI cenderung bermain dengan kekuasaan dan terlibat politik praktis pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari problematika tersebut, tulisan ini ingin membidik proses pengkaderan yang sebenarnya sangat krusial dan berpengaruh pada konstruk pemikiran dan mentalitas perjuangan untuk mencapai masyarakat peradaban. Hal ini karena sebuah proses berpengaruh pada hasil yang didapat. Dalam artian, proses pengkaderanlah yang memberikan sumbangsih terbesar pada pencapaian angan-angan atau idealitas harapan para kader HMI. Arah tujuan mereka bisa dilakukan dengan baik atau tidak, akan kembali pada hasil mereka dalam mengikuti proses pengkaderan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun masalah ini bisa dibilang adalah persoalan yang langgam diwacanakan, tetap saja masih bersifat problematis. Banyak tawaran proses pengkaderan terkait dengan anggapan para pemerhati Gerakan Mahasiswa (Germa) Islam bahwa HMI sedang mengalami masa kritis organisasi. Seperti tawaran yang dilontarkan Syamsul Munir (Pontianak Pos: 20 Feb 2006) bahwa sistem perkaderan HMI perlu dirancang kembali dengan memperkuat dan mensinergikan unsur Rasionalisme “Mu'tazilah” dan Sufisme “Al-Ghazali”. Perpaduan dua madzhab dalam sistem perkaderannya, memungkinkan HMI akan bangun dan hidup dari keadaannya yang hampir mati suri saat ini. Penjenjangan sistem perkaderan HMI harus ditata seefektif mungkin untuk menghasilkan kader HMI yang bukan hanya berkualitas insan cita yang sifatnya personal, tetapi sekaligus melahirkan manusia-manusia HMI yang memiliki karakter dengan spiritualisme tinggi yang mendasarkan Islam sebagai ideologi HMI. Kader HMI juga dituntut agar bisa mempunyai empati dan sikap kritis atas realitas kehidupan yang tak tentu arah. Sistem perkaderan yang hanya melahirkan jago “debat” tapi kehilangan relevansinya dalam praktek kehidupan kemahasiswaan dan kemasyarakatan, haruslah dirubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik itu semua, diperlukan reformulasi praktis, agar aplikasi metodologi  dalam proses pegkaderan bisa diterapkan dengan baik. Hal pertama yang patut diperhatikan, adalah mewujudkan common sense (persamaan pengertian) dan common vision (persamaan pandangan) antara kader dengan HMI. Manusia cenderung nyaman melakukan aktivitas yang berdasarkan kemauan sendiri, tanpa paksaan, tanpa tuntutan dan ikatan. Sebagai fitrah, manusia selalu menyukai kebebasan—juga merupakan makna indepedensi etis HMI. Alangkah lebih baiknya, jika pola pemikiran atau paradigma awal mereka bisa lebih berkembang karena didukung oleh pola pengkaderan yang sesuai dengan kebutuhan para kader. Meskipun kewajiban sebagai kader HMI tidak boleh diabaikan, hak mereka sebagai kader juga perlu diperhatikan. Tindak lanjutnya adalah pendekatan struktural dan emosional agar penyeragaman pengertian dan pemahaman bisa diwujudkan. Barulah kemudian, menerapkan proses pemahaman sesuai kebutuhan. Perlu digaris bawahi bahwa ketertarikan dan acuan seseorang pastilah berbeda dalam beraktifitas sehingga jangan sampai timbul keterpaksaan atau paling parah adalah dipaksa. Potensi seorang kader harus dimaksimalkan dan digali agar ia bisa berproses dengan baik di dalam organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah organisasi kader seperti HMI, membutuhkan sebuah kesinambungan dalam proses pengkaderan. Proses tak akan berhenti pada satu titik, ia selaksa tanda koma dalam tulisan. Kelanjutan hanyalah menunggu waktu. Sangat ironis, jika proses pengkaderan terhenti setelah kegiatan LK1 HMI, kemudian memulai pengkaderan dari awal lagi bagi kader baru tersebut dan menafikan kader sebelumnya, yang sebetulnya masih perlu diperhatikan. Masa satu tahun, masih belum cukup mencapai hasil dan tujuan dari pengkaderan apalagi kurang dari itu. Jangan sampai penambahan kader baru, akhirnya melupakan sekelompok angggota yang sebenarnya masih akan memulai "proses" ke-HMI-an mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kabid P3A HMI Cabang Malang Komisariat Bahasa UIN Malang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168368651595983018-9139502056048873265?l=el-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://el-madani.blogspot.com/feeds/9139502056048873265/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168368651595983018&amp;postID=9139502056048873265' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168368651595983018/posts/default/9139502056048873265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168368651595983018/posts/default/9139502056048873265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://el-madani.blogspot.com/2007/12/reformulasi-proses-pengkaderan-hmi.html' title='Reformulasi Proses Pengkaderan HMI'/><author><name>EL-MADANI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13884354467074725423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_GCsvDS-3uUY/R1W4Vrm5qtI/AAAAAAAAAAY/NtO7pKg5Hf4/S220/Untitled-1+copyK.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168368651595983018.post-552511856869053964</id><published>2007-12-07T03:46:00.000+07:00</published><updated>2007-12-07T04:07:32.222+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ke-hmi-an'/><title type='text'>Menghilangkan Eforia Historis HMI untuk Mewujudkan Insan Cita</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Sejarah pergerakan masyarakat Indonesia telah menjalani evolusi panjang untuk mencapi wujud sempurna. Meskipun  sejak lama, gerakan tersebut terbagi menjadi sekian elemen dengan karakter, misi dan ideologi berbeda, hal ini tidak menafikkan bahwa organisasi-organisasi tersebut berperan penting mengembangkan sentral pemikiran dan mengubah alur pikir kaum bumiputera mulai era pra kemerdekaan sampai puluhan tahun setelahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada awal 1900-an, sebagai respon terdapat modernisasi yang muncul akibat pengaruh Hindia, berdiri organisasi Boedi Oetomo pada 1908. Organisasi ini diharapkan mampu meredam cara pandang masyarakat bumiputera yang bergeser akibat industrialisasi Belanda terutama bidang pembinaan pendidikan masyarakat Jawa yang menjadi prioritas utama. Disamping BO, Sarekat Islam yang berdiri 1912 memberikan sumbangsih besar terhadap pergerakan masyarakat bumiputera terhadap kolonialisme Belanda. Berawal dengan nama Rekso Roemekso kemudian SDI (Serikat Dagang Islam) yang adalah representasi kesadaran yang berbeda: dari ekonomi semata hingga tendensi agama, perubahan menjadi SI adalah perubahan pola pikir menjadi politik an sich.&lt;br /&gt;Dua retasan organisasi tersebut hanyalah cikal bakal menjamurnya organisasi pergerakan di Indonesia pra kemerdekaan dengan acuan berbeda dan dapat dipetakan mulai persoalan ekonomi, sosial, budaya, agama hingga politik. Sebut saja SDP (Sociaal Democratische Partij), ISDV, JIB (Jong Islamietan Bond), SIS (Studen Islam Studied) dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Pasca kemerdekaan, di bawah pemerintahan Soekarno, paham marxisme tumbuh subur di tanah Indonesia. Beberapa organisasi yang sebelumnya memang berhaluan sosialis semakin melebarkan pengaruhnya. Pecahnya SI menjadi SI putih dan SI merah semakin menampakkan dominasi sosialisme di beberapa organisasi. Dan ini berimbas pada masyarakat bumiputera yang selanjutnya mulai tertarik untuk menggeluti pemikiran-pemikiran berhaluan sosialis karena menganggapnya sebagai ideologi penyelamat bangsa.&lt;br /&gt;Pada awal kemerdekaan hingga awal tahun 1947, alam politik di wilayah Republik khususnya di Yogyakarta didominasi oleh dua ideologi besar: sosialisme dan Islam. Di dalam tubuh pemerintah, terjadi polarisasi politik antara pihak pemerintah yang diwakili oleh partai sosialis pimpinan Syahrir dan Amir Syarifuddin dengan pihak oposisi yang dikomandani oleh Masyumi pimpinan Soekiman dan PNI pimpinan Mangunsarkoro serta Persatuan Perjuangannya Tan Malaka.&lt;br /&gt;Dua pihak berseberangan ini terus melancarkan pelbagai proganda untuk mengikat massa demi kepentingan organisasi mereka. Beragam organisasi masyarakat didekati agar ideologi mereka dapat cepat menyebar di seluruh kawasan Indonesia. Salah satunya adalah organisasi mahasiswa yang berpusat di Yogyakarta, PMY (Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta). PMY yang berdiri pada 1946 beranggotakan seluruh mahasiswa dari tiga perguruan tinggi, yaitu STT (Sekolah tinggi Teknik), STI (Sekolah Tinggi Islam), dan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada. PMY adalah adalah organisasi yang merupakan target penanaman ideologi sosialis didukung oleh sebagian besar pengurus PMY yang berorientasi pada Partai Sosialis.&lt;br /&gt;Didasarkan pada fenonema tersebut, beberapa mahasiswa yang sebelumnya menahan keinginan untuk mendirikan organisasi mulai berani menunjukkan sikap bertentangan dengan PMY. Sebenarnya, keinginan beberapa mahasiswa Islam untuk mendirikan organisasi mahasiswa berbasis agama telah bermunculan akibat sikap PMY yang dianggap tidak memperhatikan kepentingan mahasiswa beragama. Tetapi diurungkan karena dikhawatirkan memecah belah kekuatan mahasiswa yang diharapkan berperan sebagi perintis untuk mempertahankan republik Indonesia dari ancaman Belanda. Sikap ini tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa Islam saja tetapi juga datang dari Mahasiswa Katolik, Mahasiswa Kristen, serta dari kalangan Mahasiswa lainnya.&lt;br /&gt;Puncaknya, pada 5 Februari 1947, diprakarsai Lafran Pane dan 14 mahasiswa STI lainnya, HMI berdiri dan kemudian diikuti oleh PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Kristen Republik Indonesia), PMKI yang pada 1950 bermetamorfosis menjadi GMKI, sertta PMI (Perhimpunan Mahasiswa Indonesia). Tujuan berdirinya HMI bukan hanya sebagai usaha memepertahnkan integrasi dan kemerdekaan Republik Indonesia, namun juga untuk mempertahankan nilai-nilai keislaman. Hal ini senada dengan pasal 4 Anggaran Dasar HMI, yaitu mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia, dan menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam.&lt;br /&gt;Sekelumit catatan sejarah di atas hanyalah sekian bukti bahwa HMI dalam sejarah perjalanan Indonesia telah memberikan sumbangsih yang signifikan. Salah satunya adalah keterlibatan organisasi tersebut terhadap perlawanan atas PKI yang sempat menjadi mimpi buruk masyarakat Indonesia dan proses pembangunan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;Ini hanya sekedar romantisme sejarah di mana keterlibatan aktif organisasi HMI ini di masa lampau pada perkembangan bangsa Indonesia seharusnya menjadi sebuah renungan bukan kebanggaan. Dikhawatirkan sikap membanggakan diri dengan apa yang telah HMI berikan, akan membuat realisasi tujuan HMI dapat terhambat. Kita akan terjebak dalam kubangan sejarah padahal kita tidak berperan aktif di dalamnya. Yang perlu dilakukan adalah konsentrasi dan partisipasi aktif untuk mengembangkan konsepsi tujuan HMI yakni terwujudnya lima kualitas insan cita HMI: “insan akademis, insan pencipta, insan pengabdi, insan bernafaskan islam dan insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Swt” di masa sekarang dan mendatang.&lt;br /&gt;Perkaderan di HMI bukanlah suatu hal yang sudah tersedia dan jadi dengan sempurna. Menjadi anggota sebuah organisasi yang mempunyai reputasi gemilang secara historis bukanlah hak paten dapat berubah besar seperti organisasi yang ditunggangi. Ibaratnya seperti seorang vegetarian yang berharap tidak diseruduk banteng marah. Untuk menggapai insan cita harus melalui dan mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang panjang. Eforia sejarah berlebihan dapat menggelamkan proses menjadi insan cita dan niscaya tidak akan berdaya menghadapi seleksi alamiah yang terjadi dalam proses perkaderan. Go Ahead HMI!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabid P3A HMI Cabang Malang Koms. Bahasa UIN Malang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168368651595983018-552511856869053964?l=el-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://el-madani.blogspot.com/feeds/552511856869053964/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168368651595983018&amp;postID=552511856869053964' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168368651595983018/posts/default/552511856869053964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168368651595983018/posts/default/552511856869053964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://el-madani.blogspot.com/2007/12/menghilangkan-eforia-historis-hmi-untuk.html' title='Menghilangkan Eforia Historis HMI untuk Mewujudkan Insan Cita'/><author><name>EL-MADANI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13884354467074725423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_GCsvDS-3uUY/R1W4Vrm5qtI/AAAAAAAAAAY/NtO7pKg5Hf4/S220/Untitled-1+copyK.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168368651595983018.post-6500593783855863723</id><published>2007-12-05T04:28:00.001+07:00</published><updated>2007-12-07T03:25:40.361+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Madrasah Ruhani'/><title type='text'>Air Kehidupan Telah Dituangkan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. al-Jumu’ah: 62)&lt;br /&gt;Alkisah, ada seorang laki-laki kaya paruh baya mendatangi Sang Murshid. “Guru, saya sudah bosan hidup. Rumah tangga saya berantakan. Perusahaan yang saya pimpin kolaps, diambang kebangkrutan. Anak-anak saya tidak ada yang bisa dibangggakan. Pokoknya, apa pun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati saja. Hari inipun saya siap”&lt;br /&gt;Sang Murshid tersenyum, “Oh, kamu sakit.”&lt;br /&gt;“Bukan Guru, saya tidak sakit. Saya sangat sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan, “Kamu sakit, dan penyakitmu itu namanya ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan.”&lt;br /&gt;“Tapi jangan kuatir, penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku.” demikian saran sang Guru.&lt;br /&gt;“Tidak Guru, tidak. Saya sudah benar-benar ingin mati. Saya tidak ingin hidup.” Laki-laki itu menolak tawaran sang guru.&lt;br /&gt;“Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu benar-benar ingin mati?”&lt;br /&gt;“Ya, saya sudah bosan hidup.”&lt;br /&gt;“Baiklah, besok malam kamu akan mati”, Kata sang Guru sambil menyerahkan dua botol berisi air racun, ”Ambillah dua botol racun ini. Satu botol minumlah malam ini, satu botol lagi minumlah besok petang. Malamnya kau akan meninggal dengan tenang.”&lt;br /&gt;Setelah mendengar perintah sang Guru tadi, laki-laki itu menjadi bingung. Setiap Master dan psikiater yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Tapi yang satu ini aneh. Ia malah menawarkan racun. Apa boleh dikata, karena memang sudah betul-betul jenuh, laki-laki itu menerimanya dengan senang hati.&lt;br /&gt;Sesampai di rumah, ia langsung meneguk habis sebotol racun. Ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai!&lt;br /&gt;“Hidupku tinggal sehari semalam, dan aku akan mati. Aku akan bebas dari segala macam masalah kehidupan”, katanya dalam-dalam.&lt;br /&gt;Malam harinya, ia memutuskan untuk makan malam bersama anak-istrinya di restoran mahal. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan bersama keluarga selama beberapa tahun terakhir. Karena ini malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya benar-benar cair!&lt;br /&gt;Sepulang dari restoran, sebelum tidur, ia mencium kening istrinya kemudian berbisik di telinga istrinya, “Sayang, aku mencintaimu.” Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!&lt;br /&gt;Pagi-pagi, ia membuka jendela rumah dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi bersama istrinya. Pulang ke rumah setengah jam kemudian, langsung ke dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!&lt;br /&gt;Sang istri merasa ada aneh pada suaminya, kemudian berkata, “Sayang, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, sayang.”&lt;br /&gt;Setelah itu ia berangkat ke kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Bawahan-bawahannya menjadi bingung.&lt;br /&gt;“Hari ini, Bos kita kok aneh?. Sangat ramah!”&lt;br /&gt;Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka menjadi lembut. Suasana di kantor hari itu sangat menyenangkan. Karena siang itu adalah siang terakhir, sekali lagi, ia ingin meninggalkan kenangan manis!&lt;br /&gt;Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.&lt;br /&gt;Pulang ke rumah sore hari, ia melihat istri tercinta sudah menunggu di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman hangat kepadanya, “Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkanmu.”&lt;br /&gt;Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu stres karena perilaku kami.”&lt;br /&gt;Tiba-tiba, sungai kehidupan mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mulai berpikir untuk mengurungkan niatnya bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan sebotol racun yang sudah ia minum, sore sebelumnya?&lt;br /&gt;Sore itu juga, ia langsung mendatangi sang Murshid lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Murshid langsung mengetahui apa yang telah terjadi.&lt;br /&gt;“Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh, kini kau hidup dalam kekinian. Apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sang kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan.”&lt;br /&gt;Sang Murshid ini memang benar. Banyak sekali di antara kita yang alergi hidup dan bosan terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini terus berjalan. Sungai kehidupan mengalir terus. Terkadang kita ingin berhenti di tempat, tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Resistensi terhadap kehidupan membuat kita sakit. Air kehidupan telah dituangkan! Wallahu a’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menara Petir, Mei ‘07&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fauzi Ahmad Muda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Simpatisan Tarekat Mevlevi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168368651595983018-6500593783855863723?l=el-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://el-madani.blogspot.com/feeds/6500593783855863723/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168368651595983018&amp;postID=6500593783855863723' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168368651595983018/posts/default/6500593783855863723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168368651595983018/posts/default/6500593783855863723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://el-madani.blogspot.com/2007/12/air-kehidupan-telah-dituangkan.html' title='Air Kehidupan Telah Dituangkan'/><author><name>EL-MADANI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13884354467074725423</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_GCsvDS-3uUY/R1W4Vrm5qtI/AAAAAAAAAAY/NtO7pKg5Hf4/S220/Untitled-1+copyK.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
